Articles by "Suku Yali"
Showing posts with label Suku Yali. Show all posts

Oleh Dr. Ibrahim Peyon 

Dalam sejarah pekabaran injil di Yalimu khususnya GKI-TP, perlu dibedakan tiga konsep ini. Survei, persinggahan dan Injil Masuk. Survei adalah pengamatan baik melalui udara, darat dan laut untuk menentukan daerah pelayanan di atas peta. Persinggahan adalah tempat-tempat yang dilewati untuk menunju ke tempat tujuan. Injil masuk adalah para misionaris dan pengijil masuk di tempat tujuan, tempat yang sudah ditentukan berdasarkan survei. Para misionaris dan penginjil tinggal dan menetap di tempat itu untuk mengembangkan injil dan misi mereka.
Survei Udara

Sebelum masuk wilayah suku Yali, beberapa kali dilakukan survei oleh Misionaris melalui udara untuk menentukan daerah yang akan menjadi misi pelayanan mereka. Para Misionaris memetakan dan menentukan dalam peta, daerah dimana mereka akan masuk buka isolasi dan penyebaran injil. Di daerah Yalimu, survei udara dilakukan oleh misionaris GKI, pendeta Dr. Siegried Zรถllner, misionaris Gidi bersama pilot Bob. Di atas udara misionaris GKI-TP dan Gidi tentukan wilayah yang mereka akan masuk dan melayani, Misionaris Gidi pilih, wilayah Yalimu selatan di lembah Y, lembah Heluk, Seng, Solo dan sekitarnya, yang dilihat dari udara berbentuk huruf y maka disebut lembah y. Misionaris Zรถllner pilih sebelah utara dari lembah Ubahak hingga lembah Landi. Belakangan, seorang misionaris dari gereja protestan Belanda tiba, ia diajak ke Angguruk untuk bantu misionaris GKI-TP dan ditugaskan di Kosarek dan Nipsan. Tetapi, misionaris reformasi ini tidak mau bergabung dengan GKI-TP dan ia menjalankan misi dari gerejanya sendiri. Akhirnya, berselisih pendapat antara misionaris GKI-TP. Pdt Klaus Reuter lalu mengusir misionaris Belanda ini dari Kosarek dan Nipsan, akhirnya misionaris Zรถllner panggil kedua misionaris itu ke Angguruk dan mediasi perselisihan ini. Kemudian, Zรถllner menyerahkan kepada misionaris Belanda itu untuk masuk dan buka di lembah Landi khususnya Pasvalley dan Landikma, dan daerah itu kini menjadi basis gereja Reformasi yang disebut GJPI.
Setelah Zรถllner dan Vriend masuk dan buka Yalimu 23 Maret 1961, misionaris Helmut Bentz dan Adam Roth dari Jerman dikirim ke Papua untuk memperkuat misionaris Zรถllner dan dokter Vriend, Helmutz Bentz ditugaskan untuk masuk buka di lembah Habie dan Adam Roth ditugaskan masuk di lembah Pondeng. Sebelum mereka ke Pondeng dan lembah Habie, beberapa kali survei dari udara dengan pilot Bob, dari udara pendeta Zรถllner dan Bentz melihat sebuah lembah yang luas dengan beberapa perkampungan. Mereka menentukan dari udara di atas peta bahwa lembah besar itu akan menjadi tujuan pekabaran injil, lembah itu adalah Apahapsili. Di lembah ini telah menjadi tujuan perjalanan Helmut Bentz dan rombongan dan di tempat itu kemudian menjadi pusat pengembangan Injil dan disebarkan ke kampung-kampung lain hingga Mamberamo.

Perjalanan dan tempat-tempat persinggahan.


Zรถllner dan Bentz setelah menentukan lokasi melalui survei udara tersebut, Halmutz Bentz, Jareni, Rumbrar, dan para pemuda dari Bokondini ke Yalimu tujuan ke lembah Apahapsili. Halmut Bentz menjelaskan dalam bukunya, "Lebenszeichen aus Steinzeit" (1989), halaman 35-39 menjelaskan rute perjalanan dan tempat-tempat persinggahan mereka. Mereka mulai keluar dari Wamena tanggal 4 September 1965. Bentz menulis:
"4. September: Mit einem kleinen Boot setzen wir dicht bei Wamena รผber den Balim-FlรผรŸ. Den ganzen Tag geht es duch bewohntes Gebiet. Der Weg fรผhrt leicht bergauft, bis wir am ein Dorf mit dem Namen Letna kommen". (Bentz 1989: 35).
Artinya:
4 September: Dengan perahu kecil kami menyeberangi sungai Balim dekat Wamena. Sepanjang hari itu melewati daerah-daerah berpenghuni penduduk. Jalannya sedikit menanjak sampai kami tiba di sebuah desa bernama Letna".
Rute perjalanan ini ia tulis dalam catatan harian pada tanggal 10 Februari 1966 setelah kembali di Wamena. Bentz juga tulis dalam buku ini, perjalanan selanjutnya tanggal 5, 6, 7, 8, 9 dan 10 tiba di Apahapsili. Untuk tanggal 8 September Misionaris Bentz dan rombongan tiba di daerah perkebunan orang Yali di dekat kampung Pong atau Tangumsili, sebagaimana ia tulis berikut:
"8. September: Trotz der vielen hohen Bรคumen Klapt es wieder mit dem `Drop`. Es wird krรคftig gegesen. Urwald, Urwald und nochmal Urwald! Die Nacht ist sehr kalt. laut Angabe des Piloten haben wir auf einer hรถhe von 3000 Meter kampiert.
Heute sind die Wegverhรคltnisse unmรถglich: mal รผber Baumstรคmme hinweg, mal unter Baumstรคmmen hindurch, wir merken, dass diese "Weg" schon begangen wurde, und kommen auch an verlassenen Feuerstellen vorbai.
Nach mehreren studen errichen wir einen Dani-Garten. Etwas spรคta sehen wir ein Haus und davon einen Mann, der sich um Brennholz kรผmmert. Langsam schleiche ich mich an sein geht auf - und fast nicht mehr zu. Wir umarmen uns - damit ist eine Brรผcke geschlagen. Bereitwillig geht er mit und zeigt uns den Weg weiter. Starker Regen. Langsam Wir es dunkel, und der mann will uns nicht lรคnger begleiten. Wir verzweifeln fast, denn es ist noch sehr weit. Wieder ein Haus bauen? Ich drรคnge zum Weitergehen. Endlich! Ein Dorf ist in Sicht! Einige Leute laufen vor Angst weg, als sie uns sehen. Sind es Yali oder Dani? Zu welchen Stamm gehรถren sie wohl!
Wir machen wieder ein Feuer, um uns zu wรคrmen und unsere Kleider zu trocknen. Eine Funkverbindung nach Wamena war an dem Tag nicht mehr mรถglich". (Bentz 1989: 37).
Artinya:
Pada 8 September: Meski banyak pohon-pohon tinggi, 'pendropan lagi'. Banyak makanan (diturunkan dari udara oleh pilot Bob). Masih berjalan di hutan rimba, hutan rimba, dan hutan rimba lagi! Malamnya sangat dingin. Menurut pilot, kami berkemah di ketinggian 3000 meter.
Hari ini kondisi jalan tidak mungkin: kadang-kadang kami melewati di atas batang pohon yang melintang, kadang-kadang di bawah batang pohon, kami melihat bahwa "jalan" ini telah dilalui, dan kami juga menemukan pekas perapian yang sudah ditinggalkan.
Setelah beberapa jam kami telah mencapai di tempat perkebunan orang Dani (ini di dekat kampung Tangumsili, perkebunan orang Yali ). Beberapa saat kemudian kami melihat sebuah rumah dan dari sana seorang pria yang sedang mengurus kayu bakar. Saya mendekati perlahan-lahan dan berdiri di depannya, ia menyelinap mulutnya terbuka lebar- dan hampir tidak bisa menutupnya lagi. Kami saling berpelukan - sebuah jembatan (hubungan) telah dibangun. Dia secara sukarela mengikuti bersama kami dan menunjukkan jalan kepada kami. Mulai hujan deras lagi. Secara berlahan hari mulai gelap dan lelaki itu tidak mau lagi menemani kami. Kami hampir putus asa karena perjalanan masih panjang. Apakah bangun rumah lagi? Saya mendesak untuk terus berjalan. Akhirnya! melihat sebuah kampung sudah di depan kita! Beberapa orang lari ketakutan saat mereka melihat kami. Orang Yali atau Dani? Mereka termasuk suku apa?
Kami membuat api lagi untuk menghangatkan diri dan mengeringkan pakaian kami yang sudah basah. Sambungan radio ke Wamena tidak mungkin lagi hari itu" (Bentz 1989: 37).
Peristiwa yang digambarkan oleh Misionaris Bentz di atas adalah peristiwa yang pernah terjadi pada tanggal 8 September 1965 di dekat kampung Pong atau Tangumsili. Tempat yang mereka tidur itu bukan kampung Pong, tetapi sebuah tempat yang bernama Siriki, sebelah barat dari Pong. Mereka melewati kampung Pong pada pagi hari, tanggal 9 September dalam perjalanan mereka menuju Yeruk dan tidur di Hunduhukusi, di tepi sungai Habie. Helmut Bentz tidak menulis banyak peristiwa lain yang terjadi di kampung Pong, karena mereka tidak lama di situ.
Tetapi, orang-orang yang pernah bertemu dan melihat mereka di Pong pasti memiliki cerita sendiri. Ada beberapa informan asli orang Pong menjelaskan kepada saya bahwa orang-orang Pong pernah memberikan makanan kepada Bentz dan rombongannya, makanan seperti pisang masak dan tebu, dan pernah menawarkan mereka untuk bermalam agar masak babi untuk makan bersama. Jelas pertemuan mereka ini penting, kisah versi orang Pong ini bagian dari sejarah. Akan tetapi, hal-hal ini tidak ditulis oleh Bentz dalam bukunya sebagai sumber sejarah resmi atau sumber utamanya itu. Bentz dan rombongan masih tetap melewati dan terus berjalan sampai di tempat tujuan. Bentz mengatakan kepada saya bahwa ia hanya mengejar ke tempat tujuan ke Apahapsili, sebuah tempat yang sudah ditentukan dalam survei udara, dan pilot terus mengikuti dan mengarahkan mereka dari udara rute perjalanan dan pendoropan makanan.
Kutipan di atas adalah sumber sejarah tertulis satu-satunya, peristiwa yang pernah terjadi tanggal 8 September di Kampung Pong atau Tanggumsili. Di mana kita lihat tanggal 8 September sebagai hari pertama tiba di kampung orang Yali, dan kampung Pong sebagai kampung PERSINGGAHAN pertama di lembah Habie.

Peristiwa 8 September ini sama dengan perjalanan Misionaris Siegfried Zรถllner yang melewati melalui Kurima, Juwarima hingga tiba di Piliam 23 Maret 1961. Misionaris Zรถllner dan dokter Vriend diterima di Juwarima dan masak seekor babi kecil sebagai simbol bersahabatan. Tetapi, Zรถllner dan Vriend tidak tinggal di Juwarima, dan tanggal itu tidak dianggap sebagai injil masuk di Juwarima. Karena Kurima dan Juwarima sebagai tempat persinggahan saja.
Pada tahun 1962, Zรถllner dan tiga penginjil lain dari Biak dan Tanah Merah-Jayapura bersama kepala suku Suwesi ke kampung Homdonggo melalui Hiklahin, dan tidur di Homdonggo. Suwesi sendiri dari kampung Homdonggo, dan ia masak satu ekor babi besar sebagai tanda terima misionaris Zรถllner. Pada suatu hari setelah kunjungan itu, Zรถllner, Yerisotouw, dan Mapan ke Yanggali, dan bermalam di kampung itu, kemudian menyeberang sungai Pondeng ke kampung Hasan-Irarek, Sali dan Panal. Di Panal Zรถllner diterima oleh Ameteruk Peyon, kemudian Zรถllner dan Rombongan ke Panggema dan kembali ke Piliam. Tanggal-tanggal perjalanan dan tempat-tempat persinggahan Zรถllner ini sebagai hari survei awal, bukan hari injil masuk.
Oktober 1966 Bentz dan Rombonganya perjalanan dari Apahapsili ke Angguruk dan tujuan perjalanan ini adalah survei daerah antara Pondeng dan Habie yang belum dibuka pekabaran injil. Dalam rangka itu, 1. Oktober setelah ibadah di Apahapsili mereka ke Hubliki dan tidur di rumah di kampung ini, tanggal 2 mereka tidur di dekat gunung Winahik dan 3 Oktober mereka tiba di Mabualem, tanggal 4 Oktober melayani pengobatan pasien penderita penyakit Frambรถssi di Mabualen. Seorang kepala suku bernama Tinggil Huluwil masak babi satu ekor untuk pendeta Bentz dan rombongan sebagai tanda terima dan bersaudaraan, dan tanggal 6 Oktober masuk ke kampung Mohi dan Sabulung Kepno terima rombongan misionaris Bentz dengan masak babi satu ekor di kampung ini. 7 Oktober mereka ke Suweneng, di sini tidak ada orang waktu itu, mereka tidur di situ, dan tanggal 8 Oktober mereka ke kampung Werenggik dan tidur di kampung Kiyi, di sini mereka diterima oleh Ameteruk Peyon (sebelumnya Ameteruk Peyon terima Zรถllner di Panal). Selanjutnya, 10 Oktober Helmut Bentz, Rumbrar, Jareni, Landi dan 8 pemuda Apahapsili tiba di Sali, dan mereka tidur di sini. Mereka melayani suntik dan obat kepada banyak orang sakit Frambรถssi di kampung ini, dan 11 Oktober mereka menuju Panggema.
Waktu mereka sampai di sungai Pondeng, sekelompok orang Sali mengikuti mereka hingga di tepi sungai Pondeng dan bunuh 6 pemuda Apahapsili, melukai dua lain, termasuk dua panah terkena pendeta Misionaris Helmut Bentz. Pembunuhan ini terjadi, karena masalah perang antara Pong-Kulet dengan Apahapsili di lembah Habie, akibat perang itu banyak orang Pong mengungsi ke Werenggik, Panal, Sali dan Panggema, dan mereka minta orang Sali melakukan balas dendam terhadap musuh mereka orang Apahapsili, dan sebagai balasannya orang Apahapsili serang kampung Pong dan tercatat 32 orang dibunuh. Di Sali sendiri, kepala suku Pabiahun pahabol dibunuh oleh Ware Faluk dari Apahapsili yang adalah pelaku utama perang itu bersama dengan lima polisi yang dikirim dari Wamena.
Seperti dijelaskan oleh bapak Ware Faluk sendiri, bahwa perang itu terjadi karena masalah perempuan, dimana bapak Ubalik Wilil dari Pong turun ke kampung Sohoni berkosa seorang perempuan, menantu dari Ware Faluk dengan cara bonggar atap rumah lalu masuk ke dalam, dan Ware tidak terima perbuatan Ubalik Wilil itu kemudian mengambil tindakan tegas dengan cara bunuh seorang pria di daerah Pong. Persoalan itu kemudian berkembang menjadi perang besar dan banyak kerugian nyawa dan harta benda dari kedua pihak. Tetapi, akhirnya perang itu berakhir dengan perdamaian antara Kulet dengan Apahapsili tahun 1971 dalam satu upacara perdamaian di Apahapsili, dan menciptakan perdamaian abadi. Itu semua karena injil, kasih dan damai dalam Yesus Kristus.
Dengan demikian, semua peristiwa dan tanggal-tanggal sejarah ini penting, baik sejarah perjalanan dan persinggahan maupun sejarah injil masuk. Beberapa tanggal seperti 3 Oktober 1966 di Mabualem, 6 Oktober di Mohi 1966, 8 Oktober di Werenggik 1966, 8 September di Tangumsili 1965, 10 Oktober di Sali 1966, ini bisa dibedakan baik. Mana tanggal persinggahan dan mana tanggal injil masuk. Menurut saya, tanggal 8 September di Tangumsili, 8 Oktober di Werenggik, dan tanggal 10 Oktober di Sali itu sebagai tanggal survei dan persinggahan, bukan tanggal injil masuk. Tanggal-tanggal itu sama dengan tanggal perjalanan Zรถllner melewati Kuruma, Juwarima menuju Piliam tahun 1961, survei ke Hiklahin, Homdonggo, Yanggali, Irarek, Sali, Panal dan Panggema tahun 1962. Ia singgah di tempat-tempat itu dalam perjalanan ke tempat tujuan, dan atau ia singgah dalam perjalanan survei. Maka, tidak bisa disebut sebagai tanggal injil masuk.
Tanggal injil masuk adalah tanggal dimana seorang misionaris masuk di sebuah kampung dan tinggal menetap di situ untuk menjalankan penyebaran injil. Atau setidaknya, ia diterima resmi dan melakukan pelayanan injil atau medis, seperti 3 Oktober di Mabualem.
Buku-buku berikut ini adalah sumber-sumber utama yang ditulis oleh para Misionaris sendiri tentang perjalanan dan kerja mereka di Yalimu. Misionaris Siegfried Zรถllner tulis sebuah buku dengan judul "Vergessene Welt" Erste Begegnungen mit den Yali in Bergland von West-Papua. Berarti: "Dunia yang terlupakan" Pertemuan pertama dengan orang Yali di daerah Pegunungan Papua Barat. Buku ini dibersembahkan untuk Robi Ismael Silak, Natan Pahabol dan Ibrahim Peyon. Buku ini sangat lengkap dan detil sejarah misionaris, dan pekabaran injil di Yalimu, terdiri 400 halaman. Misionaris Adam Roth tulis sebuah buku dengan judul: "Aus meinem Leben 1935-1975". Berarti; dari kehidupan saya 1935-1975. Buku ini khusus dibahas tentang sejarah pekabaran injil di Yalimu. Mama Hanelore, Istri dari pendeta Adam Roth juga tulis sebuah buku dengan judul: "Vom Geisterkult Befreit: Jesu sieg in New Guinea". Berarti: "Dibebaskan dari kepercayaan roh jahat: Kemenangan Yesus di New Guinea". Buku ini ditulis berbagai cerita dan pengalaman selama pelayanan mereka di Yalimu. Pendeta Helmut Bentz tulis dua buku. Buku pertama: "Lebenszeichen aus der Steinzeit: Missionarische Pionerarbeit in New Guinea". Berarti: "Tanda-Tanda Kehidupan di Zaman batu: Misionaris Pioner bekerja di New Guinea". Buku ini terdiri dari cacatan harian perjalanan Helmut Bentz di Yalimu dengen 104 halam. Buku itu kemudian direvisi dan dicetak ulang dengan judul; Lebenszeichen aus der Steinzeit". "Tanda-Tanda Kehidupan di Zaman batu". Buku cetakan baru ini telah ditambah banyak hal dan halaman bertambah menjadi 160 halaman. Buku-buku itu sumber utama sejarah pekabaran injil di Yalimu, tidak ada buku lain selain ini. Kecuali satu buku gambar dibuat oleh Susane Reuter.
Selain buku-buku di atas, berbagai dokumen dalam bentuk video, catatan harian, foto, dan manuskrip yang terdiri dari ratusan dokumen, total 800 dokumen telah diserahkan pada saya, khusus dokumen dari Siegfried Zรถllner, Helmut Bentz, Adam Roth dan Prof. Dr. Volker Heeschen. Berdasarkan dokumen-dokumen, indep interview dan FGD di Apahapsili, saya ditugaskan oleh VEM untuk menulis sebuah buku dengan judul: "Terang Bersinar di Balik Gunung". Buku ini merupakan gabungan dari dokumentasi para misionaris, dan hasil wawancara mendalam, Diskusi kelompok terarah (FGD) dengan para pelaku sejarah di Apahapsili. Pengumpulan data di Apahapsili dilakukan saya sendiri bersama Dr. Sonja Riesberg, seorang ahli linguistik dari Universitas Kรถln. Hasil wawancara dikumpulkan dalam bentuk video atau flem dokumenter, dan data-data itu di simpan di Universitas Kรถln, dan VEM/UEM di Wuppertal, dan mungkin juga di Unipa.
Saya tulis buku ini di Jerman, dan selalu konsultasi dengan Helmut Bentz, Margaret Bentz dan Siegfried Zรถllner. Sebelum dicetak, naskah buku ini diberikan kepada Helmut Bentz, Margaret Bentz dan Siegfried Zรถllner, mereka periksa naskahnya selama dua bulan, koreksi kesalahan dan disetujui untuk dipublikasi.
Karena sejarah adalah kebenaran, dan kebenaran adalah bukti dan fakta. Sebuah kebenaran bisa dibuktikan dengan dokumen tertulis, dan visual. Bila kita bicara kebenaran, tetapi tidak bisa dibuktikan dengan dokumen tertulis dan visual, maka nilai kebenaran dapat diragukan dan tidak bisa disebut kebenaran lagi. Sejarah berdiri di atas dokumen, dan bukti-bukti tertulis dan artefak, sejarah tidak bisa merubah di tengah jalan atas kehendak individu dan kelompok, sejarah tidak bisa dipaksakan dengan tekanan dan kekerasan, karena kepentingan tertentu. Sejarah sebagai kebenaran akan mencari jalannya sendiri, meskipun dibelokannya. Karena bukti tertulis, visual dan benda material atau artefak tersebut.
Berkaitan dengan suveri, persinggahan, dan injil masuk yang telah dibahas dan sedang menjadi perdebatan dalam jemaat-jemaat di Yalimu saat ini, saya mengusulkan dua hal sebagai solusi.
1). Peringantan Hari Persinggahan. Kampung-kampung yang pernah lewati para misionaris dalam perjalanan menuju tujuan dan perjalanan survei, bisa dibangun Dugu sebagai peringatan pekas perjalanan Misionaris. Bahwa para misionaris pernah singgah pada tanggal dan di kampung tertentu, dan tanggal itu ditetapkan sebagai hari PERSINGGAHAN.
2). Peringatan Hari Pekabaran Injil. Para misionaris dan atau penginjil yang pertama masuk di kampung-kampung, tinggal menetap dan mengabarkan Injil itu ditetapkan sebagai tanggal injil masuk, dan bisa dibangun Dugu sebagai Hari Perayaan Injil atau hari masuknya Injil.
Maka makna dan nilai sejarah tidak bisa dikaburkan. Perayaan hari Injil Masuk tidak bisa disamakan dengan makna survei dengan persinggahan. Makna dan nilai pekabaran Injil itu, para misionaris masuk di sebuah kampung, tinggal tetap di tempat itu, membangun jemaat, memberitakan Injil, membangun gedung gereja, dan mengembangkan jemaat di tempat itu.